Selamat datang di Sidowayah RT 01/06 Ngreco, Weru, Sukoharjo

handphone-tablet
Breaking News
recent

Dana ADD Tahap Ke-3 dan Sosialisasi STBM


Cuaca cerah di pagi hari Kamis, 13 November 2014, terlihat ada acara di pendapa Balai Desa Ngreco. Sesuai undangan yang beredar, hari ini adalah pembagian dana ADD tahap ketiga dan sosialisasi STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).


Bersamaan presensi kehadiran dan pembagian snack, untuk para Ketua RT dibagikan majalah Suara Makmur edisi 64 Th.XII 2014, media informasi dan inovasi yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. Pada majalah tersebut dimuat artikel dan liputan seputar Sukoharjo dan program serta kinerja pemerintahan kabupaten.


Sekitar pukul 09:45 WIB, acara dibuka oleh Bapak Yudho. Dilanjutkan sambutan dari Pak Lurah H. Sunardi. Beliau menyampaikan bahwa hotmix dari Tawang untuk tahun ini baru bisa sampai ke Sidowayah. Beliau juga menyampaikan laporan dana-dana masuk dan pemanfaatan selama 2014 ini.


"Hari Selasa jam 8 pagi, akan diadakan lelangan sewa tanah kas desa. Pelaksanaan di balai desa, dengan lelang tertutup seperti tahun kemarin, bagi yang memenangkan lelang harus bayar sewa dengan DP 50%," tambah Pak Lurah.

Selanjutnya sosialisasi dari pihak Puskesmas Weru disampaikan oleh Bu Sugiyarti, petugas bagian Kesehatan Lingkungan.


"Pamsimas yang diperbantukan merupakan awal dari adanya STBM yakni Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang mencakup bebas 5 pilar yaitu BAB sembarang, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, pengelolaan sampah, pengelolaan limbah rumah tangga."

Desa Ngreco terpilih sebagai Desa STBM. Dan di Sukoharjo hanya di Ngreco saja yang terpilih untuk itu. Itu karena cakupan persyaratan fasilitas kesehatan di Ngreco sudah termasuk mencukupi.

Selanjutnya, penyuluhan oleh Ibu Haswi Iswandani dari BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kabupaten Sukoharjo.


"Terpilihnya sebagai Desa STBM tentu saja menunjukkan bahwa kinerja kesehatan di Ngreco sudah cukup baik," kata beliau. "Salah satu pilar tadi adalah pengelolaan sampah."

Bicara fakta, jumlah sampah nasional rata-rata 500 juta ton per tahun (Hilman, 2011). Lalu, bagaimana pengelolaannya?

Membakar sampah akan menghasilkan polusi udara berupa asap yang mengandung zat-zat yang tidak baik untuk kesehatan, yang bisa saja terhirup kita dan anak-anak kita. Tentu itu bukan solusi.

Perilaku manusia sekarang cenderung suka menyampah atau menghasilkan sampah. Sebut saja sampah dari diapers, pembalut, dus snack, dan sebagainya. Kebiasaan kita menimbun sampah dan membuang sampah.

"Kita merintis adanya bank sampah untuk pengelolaan sampah agar bisa bermanfaat. Bisa dilakukan secara mandiri, bisa memberikan keuntungan dan juga edukasi agar anak bisa belajar menabung dengan pengelolaan sampah."

Untuk mendirikan bank sampah, kita harus melakukan sosialisasi, membentuk pengelola, melatih pengelola, menyiapkan kelengkapan bank sampah, mencari pembeli sampah (rosok/pengepul).

Untuk mendirikannya bisa ke BLH untuk membantu dana.

Prinsip utama pengelolaan sampah dengan melakukan 3R: Reduce (mengurangi), Reuse (memanfaatkan kembali), Recycle (daur ulang).

Salah satunya adalah pengomposan agar bisa jadi pupuk yang bermanfaat bagi pertanian. Komposter adalah alat sederhana untuk pembuatan pupuk dari bahan sampah sekeliling kita.


Untuk saat ini percobaan kelompok Bank Sampah sudah dimulai oleh Kebayanan Klampok.

Selanjutnya pembagian dana ADD untuk honor RT, RW dan stimulan per-RT 250rb rupiah. Juga operasional LPM, perbaikan lapangan, dana untuk TK/PAUD, karang taruna dan lainnya.

Suden Basayev

Suden Basayev

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.